Pameran KaNa Fuddy Prakoso di Yogyakarta, Kardus Jadi Ruang Komunikasi di Karyanya

by -
Pameran KaNa Fuddy Prakoso di Yogyakarta, Kardus Jadi Ruang Komunikasi di Karyanya
Kana Fuddy Prakoso

Oleh : Muharyadi

PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Setelah sukses menggelar pameran untuk seniman lain di ruang Garasi Jalan Gandaria IV/2 Keramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan di luar dirinya, kini pelukis Wanita Indonesia Kana Fuddy Prakoso kembali menggelar pameran tunggal ke enam mengusung tema “Kanã Kanaka” sejak 1-15 Juni 2025 di Ruang Dalam Art House, Jalan Kebayan, Gang Sawo Nomor 55, Yogyakarta.

Baca Juga : Pesangrahan “Ngarai Sianok” Penuh Misteri di Mata Pelukis Herisman Tojes

Di tengah tengah suasana mengecangkan ikat pinggang, namun Insya Allah bisa terlaksana sebagai sebuah pertanggungjawaban kultural pada publik di tanah air saat ini,” ujar KaNa begitu panggilan akrabnya kepada Semangatnews.com, Minggu siang, (25/05/25).

Dua Mata, Tinta china di atas kardus, Medium Pizza. 2023
Dua Mata, Tinta china di atas kardus, Medium Pizza. 2023

Dalam nuansa suka, duka, canda dan tawa, semua terakumulasi dalam nafas karya melalui goresan-goresan yang bukan hanya indah untuk ditampilkan tetapi juga menarik untuk ditelusuri sebagai bentuk perjalanannya dalam menggumuli wilayah kreativitas yang selama ini berkomplasi 6 (enam) tahun lamanya melalui sejumlah karya yang ditampilkan.

Bagi wanita cantik paroh baya alumni FSRD ISI Yogyakarta kelahiran Kudus, Jawa Tengah, 9 December 1973 itu menyebutkan ; memikirkan seniman lain untuk berpameran dari hasil proses kreativitasnya di ruang Garasi selama ini sama pentingnya dengan ia memikirkan untuk berpameran. Karena KaNa lebih menekankan proses kreatif para seniman di luar dirinya sebagai basis landasan kesenian dalam ranah kebudayaan bidang seni rupa.

Red Zone, tinta cina di atas kertas, 78x66 cm, 2020
Red Zone, tinta cina di atas kertas, 78×66 cm, 2020

Sebagaimana yang pernah kita tulis sebelumnya, selama ini diakui ada keterbatasan ruang pameran untuk seniman agar dapat dinikmati publik. Sementara seniman tak terhitung lagi jumlahnya bahkan melampaui ruang pameran yang ada di Jakarta. Sebagai solusi alternatif untuk memfasilitasi kegiatan seni di Jakarta, saya memberanikan diri membuat satu ruang inkubasi gagasan yang menekankan proses kreatif sebagai basis landasan untuk dapat berpameran dan berkolaborasi dalam dunia seni rupa dengan memilih salah satu ruangan tempat tinggal saya di Jakarta selatan ini,” kata KaNa.

Sungguh mulia apa yang dikerjakan dan dilakukan KaNa terhadap para seniman lain di luar dirinya, tidak hanya dari Jakarta dan pulau Jawa, bahkan dari Sumatera pun seperti dari Jambi misalnya baru baru ini ia tampung untuk menggelar pameran di ruang Garasi. Meski diakui sederhana, tapi tetap bisa menggelar pameran, ungkapnya lagi.

Putaran,Tinta Cina dan acrylic di atas kardus, 2023
Putaran,Tinta Cina dan acrylic di atas kardus, 2023

Karena itulah, untuk yang ke enam kalinya KaNa kembali berpameran tunggal, sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publiknya sebagai hasil kerja kerasnya selama ini.

Kardus Jadi Ruang Komunikasi di Lukisan KaNa

Tidak kurang 26 (dua puluh) karya ternyata KaNa masih tetap setia memanfaatkan kardus sebagai landasan utama karya-karyanya tanpa kehilangan greget bermuatan seperangkat nilai-nilai di dalamnya.

Kursi Kuning, Acryllic di atas kardus, 53cm x 44cm,. 2025
Kursi Kuning, Acryllic di atas kardus, 53cm x 44cm,. 2025

KaNa satu diantara sedikit pelukis wanita Indonesia yang tidak hanya kreatif dan produktif melahirkan karya-karya terbaik, tetapi juga mampu mengekplorasi berbagai kemungkinan media kardus dalam menyiasati berbagai dinamika medan sosial di karyanya tanpa kehilangan greget estetik di dalamnya.

Apakah melukis di atas kardus-kardus bekas akan mengurangi makna dan nilai-nilai yang tersirat di dalamnya untuk para penikmatnya? Tentulah kita berani menjawabnya, tidak! Karena soal berkarya bagi KaNa “Tak Ada Rotan, Akar Pun Jadi” sebagaimana pernah diuangkapkan belum lama ini.

Mengingat barang bekas yang sering dibuang begitu saja di tempat tempat tertentu bahkan di tempat sampah sekalipun sudah tidak ada lagi artinya. Bagi KaNa barang-barang yang sudah tidak terpakai sangat bermanfaat. Kejeliannya menangkap berbagai dinamika di luar dirinya berhasil ia sulap melalui kardus sebagai karya dalam bentuk lukisan..

Pada karya-karya pameran tunggalnya ini, KaNa belum melepaskan diri terhadap kertertarikan pada obyek sepeda yang selama menjadi mayoritas di karyanya.

Obyek sepeda, tentulah tidak semata dilihat sebagai kendaraan pribadi yang memiliki banyak manfaat penggunaannya seperti untuk tubuh sehat, mengurangi polusi udara, menghemat biaya baik di perkotaan maupun perdesaaan serta penghematan pengeluaran, serta berbagai macam manfaat lainnya.

Bahkan tak jarang pula sepeda dianggap sebagai bagian gaya hidup dan juga dijadikan kegiatan untuk menunjukkan tidak hanya mengekspresikan perbedaan, tetapi juga membangun perbedaan. Namun diluar itu semua sepeda juga harus dilihat sebagai simbol status sosial maupun makna yang terkandung di dalamnya.

Banyak pendapat dan interpretasi yang dapat dikemukakan perihal sepeda, sebagaimana dapat kita simak obyek sepeda pada mayoritas karya KaNa lebih menarik dijadikan bahasa utama melalui visualisasi hal tersurat dan tersirat yang dikemas dalam bahasa estetik.

KaNa dalam refresentasinya kepermukaan di atas kardus bertutur rentang sepeda yang tidak hanya dilihat secara kasat masa, karena dibalik sepeda dengan rodanya dibuat lebih besar lengkap dengan jari jari sepedanya terdapat “asa” menggantung tentang kehidupan yang terus berputar dan menggelinding sebagaimana hidup manusia di muka bumi ini.

Secara simbolik KaNa bertutur, akankah roda roda sepeda ini mencapai suatu tujuan sebagaimana harapan hidup manusia yang hendak dicapai. Teka teki itu dikemukakan KaNa melalui karyanya berjudul Red Zone, tinta cina di atas kertas, 78×66 cm, 2020, Putaran,Tinta Cina dan acrylic di atas kardus, 2023 dan, Dua Mata, Tinta china di atas kardus, 2023.

Sepeda bagi KaNa bukan hanya merupakan moda transportasi yang sangat murah diperoleh maupun dibeli sepanjang bukan untuk gaya hidup mewah sebagaimana lazim kita temui di perkotaan. Tapi kesederhanaan sepeda sebagai alat transportasi berlabel murah, ternyata melalui sepeda juga dapat mencapai tujuan arah yang hendak diinginkan dengan cepat dan terukur. Dikiaskan kepada kehidupan masyarakat dalam kesehariannya, meskipun hidup sederhana ternyata mampu meraih sukses di tengah tengah masyarakat.

Baik obyek utama karya maupun media kardus bekas yang digunakan seniman dan founder Ruang Garasi ini, tak menghilangkan pesan dan nilai nilai yang disampaikan ke publik. Mengingat keseriusannya menangkap dinamika di karya-karyanya tampil menggelitik dalam penggalan nilai nilai estetik.

Mengutip pengantar kuratorial katalog pameran yang ditulis Yaksa Agus berjudul Eksplorasi Seni dalam Kardus Narasi Visual dari Objek Sehari-hari menyebut, karya-karya KaNa sepintas sederhana, dengan media sederhana, ada sesuatu yang bisa kita jadikan rujukan maupun edukasi. Salah satunya dari sisi media yang digunakan, yaitu kardus bekas packaging benda-benda kebutuhan kita sehari-hari. Uniknya, dengan benda sederhana ini, KaNa mampu menyimpan kisah-kisah cerita kehidupan dengan ekspresi visual.

Kana membawa semangat bagaimana ‘menghidupkan kembali dari sesuatu yang biasa-biasa saja menjadi memukau’ ; dan bagaimana menghadirkan rangkaian kehidupan dan memaknai kembali menjadi dokumentasi visual kehidupan sosial.

“Kotak kardus hari ini adalah bagian dari rantai logistik ke depan pintu rumah kita.” Ungkapan ini adalah realita kita saat ini. Box atau kotak kardus bukan sekadar perantara komoditas, tetapi juga adalah alat komunikasi. Menandai suatu era, yang mungkin bisa disebut sebagai zaman masa keemasan kardus. Hampir semua kebutuhan manusia, pendistribusiannya tak bisa dilepaskan dari kardus. Setiap kemasan menunjukkan identitasnya; isi, kapan dan dari mana diproduksi.

Di tangan Kana, kardus kardus dipinjam untuk meletakkan dokumentasi visual, semacam bait-bait puisi atau prosa dari rekaman peristiwa sosial. Jika kemudian dihadapkan dengan pertanyaan, apakah karya dan pemikiran Kana akan dihadapkan pada penilaian-penilaian dari sebuah kenyataan yang lebih spekulatif? Maka jawabannya adalah: jangan–jangan kita semua juga sedang dihadapkan pada problem-problem yang lebih khusus, bahwa persoalan sampah hari ini, jauh lebih penting dari sekadar merangkai kata-kata puitis untuk membuat sejarah estetika.

Lukisan KaNa yang tak kalah menarik pada pamerannya ini diantaranya berjudul Suku Air 1 hingga Suku Air 4 yang digarap keempatnya tahun 2022 bermuatan kririk sosial juga tampil sederhana di atas kardus. Kritik sosial tersebut berupa laut yang bersih dan tidak tercemar menjadi kewajiban semua pihak untuk menjaga dan melindunginya. Misalnya tidak membuang sampah seenaknya ke laut yang dapat merusak biota laut dan eksosistemnya.

Dua diantara karya terbarunya berjudul Kursi Harapan , Acryllic di atas kardus, 53cm x 44cm, dan Kursi Kuning, Acryllic di atas kardus, 53cm x 44cm, keduanya dibuat tahun 2025 ini menarik untuk disimak lebih jauh dan lebih dalam.

Masih menggunakan media kardus dengan warna warna mencolok berangkat dari obyek keseharian yang tak jauh dari lingkungan KaNa, pelukis ini menyiratkan peran kursi bagi sosok lelaki baik sebagai tempat duduk, bersandar maupun istirahat bahkan kursi juga dapat menjadi taruhan dalam gonjang ganjing pilitik, sekecil apapun bentuknya.

Bagaimana pun karya karya KaNa Fuddy Prakoso yang dikenal sebagai sosok multi talenta ini ternyata mampu menciptakan karya-karya inspiratif melalui media kardus yang menjadi ciri khasnya selama ini dan tak pernah henti mencari idiom idiom baru sebagai penjelajahan kreativitas dengan hasil yang luar biasa.

KaNa memang yang memang menjadi diri sendiri dengan kemampuan sendiri, kini terus mencari sesuatu yang dianggap orang lain tidak berguna menjadi sesuatu yang menarik bahkan mampu merayakan mata penikmatnya. (***)
Catatan Redaksi
Muharyadi, Penggiat Seni Rupa, Seniman dan Jurnalis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.