Menteri Kebudayaan RI, Dr. Fadli Zon Dijadwalkan Meresmikan Pameran, Simposium dan Bincang Seni “Dulu-Sekarang”, Jumat 13 Juni 2025 di Yogyakarta

by -
Menteri Kebudayaan RI, Dr. Fadli Zon Dijadwalkan Meresmikan Pameran, Simposium dan Bincang Seni “Dulu-Sekarang”, Jumat 13 Juni 2025 di Yogyakarta
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon

YOGYAKARTA, SEMANGATNEWS.COM – Menteri Kebudayaan RI, Dr. Fadli Zon dijadwalkan meresmikan pameran, simposium dan bincang seni dengan topik “Dulu-Sekarang”, menandai tonggak penting dalam sejarah kampus dan sekaligus menjadi kado perayaan Dies Natalis ke-41 ISI Yogyakarta, Jumat, 13 Juni 2025 di Yogyakarta.

Baca Juga : Meylani Siti Malicka Putri Menekuni Kuratorial Sebagai Pilihan Profesi Masa Depan

Agenda pameran seni rupa, simposium, bincang-bincang seni, serta lokakarya. bertajuk “Dulu-Sekarang” menampilkan karya seni dan arsip yang merepresentasikan sekolah-sekolah seni rupa yang berafiliasi dengan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD-ITB) dan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta sejak 13 Juni sd 13 Juli 2025 di Yogyakarta.

Kegiatan ini menggali sejarah dan perkembangan sekolah-sekolah seni rupa di Indonesia dengan menelusuri evolusi dari akademi tradisional menjadi institusi pendidikan kontemporer, sebagaimana disampaikan salah seorang dosen ISI Yogyakarta yang juga turut berpartisipasi dalam seminar, lokakarya, dan pameran Dr. Mikke Susanto, MA kepada Semangatnews.com. Kamis, (12/06/25).

Menurut Mikke Susanto, program kegiatan ini diselenggarakan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Den Haag, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Untuk pameran “Past—Present: Art Schools in Indonesia” akan menyoroti evolusi seni dan desain dari perspektif akademis menampilkan karya seni dan arsip yang menggambarkan sekolah seni yang diwakili Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD-ITB) dan Institut Seni Indonesia Yogyakarta (ISI-Yogya) serta perannya dalam membentuk praktik seni modern di Indonesia.

Pada pameran menawarkan dua bagian utama yakni ; (1) Asal Usul Pendidikan Seni menampilkan reproduksi dokumen sejarah dan karya seni utama dari sekolah seni Indonesia yang menyoroti perkembangannya dan menekankan kontribusi para pelopor terhadap fondasinya, (2). Dari sekolah ke masyarakat memamerkan karya dari sudut pandang individu hingga seni sebagai strategi untuk membangun masyarakat yang inklusif, menginspirasi audiens dengan potensi sekolah seni yang terlibat dengan masyarakat dan berkontribusi pada perubahan sosial melalui kolaboratif dan penjangkauan.

Pameran diikuti tidak kurang 76 peserta diantaranya ; Abdullah Suriosubroto, Simon Laksamana, Jack Zeijlemaker, RJ Katamsi, Ries Mulder, G.Sidharta, Sudjoko, Mochtar Apin, Edie Kartasubarna, B.Itu, E.Yap, Burhan, Z.Arif, O.Kreefft, Sri Soedharti, Ahmad Sadali, A.D. Pirous, Sunaryo, Krisna Murti, Tisna Sanjaya, Nasirun, Yunizar, Jumaldi Alfi, Bambang ‘Toko’ Witjaksono, Sekar Puti Sidhiawati, Sania Gilang Hati, Camilla Astari dan lainnya.
Sejumlah dosen dan alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta berpartisipasi dalam seminar, lokakarya, dan pameran antara lain : Dr. Irwandi, M.Sn., Dr. Mikke Susanto, M.A., Warsono, M.A., Sudjud Dartanto, M.Hum, Nasirun, Jumaldi Alfi, Eko Nugroho, Yunizar, Theresia Agustina Sitompul, Terra Bajraghosa, Setu Legi dan beberapa lainnya.

Untuk simposium bertajuk “Menavigasi Jaringan : Sekolah Seni dan Lintasannya” menghadirkan pembicara terkemuka dari berbagai bidang, termasuk pendidik, seniman, akademisi, kurator, peneliti, mahasiswa, dan profesional dalam komunitas seni dari Indonesia dan Eropa guna mengeksplorasi konteks historis dan arah prospektif sekolah seni, sehingga memfasilitasi diskusi komprehensif tentang metodologi inovatif, tanggung jawab sosial, dan evolusi pendidikan seni dalam masyarakat yang semakin mengglobal.

Kegiatan diskusi dan Lokakarya Seni, akan mendorong peserta untuk berpartisipasi dalam pengalaman belajar langsung, diskusi kolaboratif, dan curah pendapat untuk pendekatan pendidikan di masa mendatang mendorong terciptanya lingkungan tempat para pendidik dan peserta dapat terlibat secara mendalam dengan konsep, teknik, dan praktik artistik. Peserta dapat belajar dari seniman dan pendidik berpengalaman dan bereksperimen dengan bahan dan metode baru untuk menyempurnakan keterampilan mereka guna mendorong kolaborasi, yang memungkinkan peserta untuk bertukar pengetahuan, memberikan umpan balik, dan saling mendukung perjalanan artistik mereka.

Kemudian kegiatan Obrolan Seni I, Dulu & Sekarang: Menjelajahi Jaringan sirkulasi global seni rupa Indonesia merupakan topik yang perlu ditelusuri lebih lanjut karena beberapa faktor, terutama kurangnya pengakuan akibat dokumentasi dan arsip yang tidak memadai. Keterbatasan ini memengaruhi autentikasi dan atribusi karya seni, terutama karya seni yang tidak memiliki asal usul yang jelas, seperti pemalsuan lukisan modern, yang mengikis kepercayaan dan keaslian. Sirkulasi seni di luar negeri dibentuk oleh trend pasar seni dan tekanan komersial.

Serta banyak agenda lainnya yang tidak kalah menarik untuk diikuti berupa Menavigasi Jaringan dalam Mengajarkan Seni di Seluruh Dunia, Art Talk II Dulu dan sekarang, bengkel tanah liat dan agenda lainnya hingga 13 Juli 2025 mendatang sebagaimana yang telah diagendakan pihak panitia,” ujar Mikke Susanto. (mh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.