Meylani Siti Malicka Putri Menekuni Kuratorial Sebagai Pilihan Profesi Masa Depan

by -
Meylani Siti Malicka Putri Menekuni Kuratorial Sebagai Pilihan Profesi Masa Depan
Meylani Siti Malicka Putri (Kurator Seni Rupa)

YOGYAKARTA, SEMANGATNEWS.COM – Tak banyak anak muda saat ini memilih penekunan dunia kuratorial bidang seni baik di tingkat pendidikan menengah atas maupun perguruan tinggi seni guna mendalami dunia kuratorial sebagai sebuah pilihan profesi menghadapi dunia yang kini penuh tantangan karena tidak gampang untuk dilalui dan dilaksanakan termasuk dalam dunia seni, salah satunya seni rupa.

Baca Juga : Lukisan Kaligrafi Karya Harisman Berdakwah “Tentang Orang Yang Tuli”

Mengingat saat ini, dunia seni rupa terus berkembang pesat tidak saja di Eropa dan Asia termasuk Indonesia sendiri diantara banyak disiplin ilmu yang selalu diidentikan dengan kebebasannya, namun kebebasan tidak diartikan seperti burung terbang di udara kemana ia suka arah dan tujuan, melainkan kebebasan yang memiliki aturan serta etika sesuai ilmu dunia kratorial yang jelas ukuran dan standarnya agar tidak membingungkan publik.

Meylani berfoto disalah satu luikisan pameran
Meylani berfoto disalah satu luikisan pameran

Hal ini pulalah yang kini tengah dilakukan dan ditekuni anak muda gadis cantik Meylani Siti Malicka Putri mahasiswa semester 2 (dua) penekunan kompetensi Tata Kelola ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta sebagai tantang menarik yang harus dilakukan saat mengutarakan pendapatnya perihal dunia kuratorial yang kini ditekuninya melalui pendidikan tinggi seni kepada semangatnews.com, Minggu Sore (01/06/25) di Yogyakarta.

Banyak orang berpendapat menjadi kurator suatu pameran sangat gampang. Artinya dengan membuat proposal, penyusunan program, mencari dan menghubungi sponsor/lembaga-intitusi terkait, menentukan tema pameran, menghubungi peserta pameran dan melaksanakan pameran, maka urusan dianggap selesai. Tidak sesederhana dan sesimple itu urusan kurator pameran,” ujar Meylani demikian panggilan akrabnya yang yang telah beberapa kali menjadi kurator dan penulis pameran yang mulai dirintisnya sejak masih di SMA dulu hingga mahasiswa ISI Yogyakarta sekarang.

Meylani Tengah Memberikan Wejangan kepada Peserta Pameran
Meylani Tengah Memberikan Wejangan kepada Peserta Pameran

Menurut Meylani kelahiran Cianjur Jawa Barat, 30 Mei 2005 yang barulang tahun ke 21 tersebut, dunia kuratorial yang mulai ditimbanya secara serius melalui bangku perkuliahan, secara sederhana, dapat diterjemahkan sebagai seni dan praktik memilih, menyusun, dan menyajikan karya seni atau objek budaya lainnya.

Setelah menekuni dan mencoba saya mendalaminya, sangat merasakan sekali bahwa definisi ini terlalu menyederhanakan kompleksitas peran seorang kurator. Kuratorial bukanlah sekadar penataan fisik karya seni dalam sebuah ruang pameran, melainkan proses yang jauh lebih mendalam, melibatkan serangkaian tahapan kritis dan kreatif.

Sebagaimana yang pernah ia lakukan saat menjadi kurator pameran seni rupa bertajuk “Memoir” di Sarang Art Building, Kalipakis, Tirtionormolo, Kasihan, Bantul, 7-10 Mei 2025 lalu dan Workshop membuat scrapbook yang diorganisir mahasiswa S-1 Program Studi Tata Kelola Seni FSRD ISI Yogyakarta, dengan peserta tidak hanya mahasiswa tapi sejumlah seniman senior dibawah bimbingan salah seorang dosen Tata Kelola ISI Yogyakarta, Dr. Mikke Susanto, MA, sebagai suatu bukti pengabdian nyata kepada masyarakat.

Menurut Meylani, proses kuratorial yang telah dilaluinya meskipun diakui masih terbilang sederhana selama ini, biasanya diawali dengan riset yang ekstensif. Diikuti penelusuran mendalam terhadap konteks historis, sosial, dan artistik dari karya seni yang akan dipamerankan.

Bagaimana pun peserta pameran seyogyanya perlu memahami latar belakang penciptaan karya, filosofi artistik yang mendasarinya, serta hubungannya dengan karya-karya lain yang sejenis atau berbeda. Riset ini tidak hanya terbatas pada karya seni itu sendiri, tetapi juga mencakup konteks budaya, politik, ekonomi sosial budaya yang melingkarinya.

Selesai riset, biasanya kurator melakukan seleksi karya. Dimana proses seleksi bukan sekadar memilih karya yang indah atau populer, tetapi juga melibatkan pertimbangan estetis, intelektual, dan naratif. Karena bagaimanapun kurator tentu harus mampu melihat hubungan dan keterkaitan antar karya, dan memilih karya yang dapat membentuk sebuah narasi atau tema yang koheren dan menarik. Seleksi ini juga memperhatikan aspek keberagaman dan representasi, memastikan bahwa pameran tersebut mencerminkan keragaman perspektif dan pengalaman.

Kemudian mengatur penyusunan dan penyajian serta mengatur karya-karya terpilih dalam sebuah tata ruang yang terkonseptualisasi dengan baik, bukan sekadar penataan fisik, tetapi juga merupakan bagian integral dari narasi yang ingin disampaikan. Diikuti mempertimbangkan pencahayaan, label, teks deskriptif, serta elemen-elemen lain guna memperkuat pesan dan pengalaman pengunjung.

Dan yang terpenting lagi kemampuan menulis dengan baik melalui bahasa visual karya yang dikuratori, dan aspek komunikasi dan edukasi dan bertanggung jawab menyampaikan pesan dan konteks karya seni kepada pengunjung dan berbagai media, seperti katalog pameran, teks deskriptif, pemandu wisata, dan program edukasi lainnya merupakan kompetensi yang harus dimiliki kurator dalam suatu iven pameran.

Dan yang tidak yang tidak kalah penting kurator juga berperan sebagai jembatan antara seniman dan publik, memfasilitasi dialog dan pemahaman yang lebih baik tentang karya seni sebagai penentu arah dan interpretasi karya seni dan dapat menghubungkan karya seni dengan konteks sosial, politik, dan budaya yang lebih luas, sehingga karya seni tersebut menjadi lebih bermakna dan relevan, sekaligus berperan sebagai jembatan antara seniman dan publik guna membantu seniman untuk mendapatkan eksposur dan pengakuan, dan memahami dan menghargai karya seni berkualitas dan relevan hingga menyajikannya melalui cara menarik dan informatif,” ujar Meylani.

Pada akhirnya diakui bahwa peran kurator tidak dapat diabaikan dalam membentuk generasi yang memiliki pemahaman dan apresiasi yang tinggi terhadap seni dan budaya yang ada di tanah air, ujar Meylani yang kini bermukimm bertempat tinggal dan berkarya dekat kampusnya, Sewon Bantul, Yogyakarta itu menjelaskan.

Dalam catatan kita, Meylani yang sejak masih mengikuti menengah di salah satu SMA di Sukabumim Jawa Barat tersebut tercatat sebagai juara pertama penulisan naskah terbaik tingkat Kota Sukabumi, juara pertama fotografi Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Sukabumi. Peraih Medali Perunggu, Sosiologi Tingkat Nasional ISSO V tahun 2022, dan Siswa Berprestasi, English Academic BEST EDUTAINMEN Cianjur 2024.

Selama kuliah di ISI Jogyakarta Meylani yang memiliki keahlian Public Speaking Art Knowledge, English basic skill dan juga tercatat belasan kali mengikuti aktivitas kampus dan luar kampus diantaranya, menjadi Humas dan Sosisal Media Jurusan Tata Kelola Seni, Humas Himpunan Mahasiswa Jurusan Tata Kelola Seni ISI Yogyakartam sebagai Liaison Officer Festival Malioboro, Liaison Officer Internasional Kelola Art Fest 9 dan kurator pameran Pameran Memoir di Sarang Art Building, Kalipakis, Tirtionormolo, Kasihan, Bantul Yogyakarta 7-10 Mei 2025 lalu,” ujar Meylani mengakhiri. (Muharyadi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.