Pameran “Memoir” Menampilkan Enam Perupa Sejak 7 sd 10 Mei 2025 di Sarang Art Building Block I Yogyakarta

by -
Pameran “Memoir” Menampilkan Enam Perupa Sejak 7 sd 10 Mei 2025 di Sarang Art Building Block I Yogyakarta
Meylani Siti Malicka Putri, kurator pameran Memoir

YOGYAKARTA, SEMANGATNEWS.COM – Tiada hari tanpa pameran, begitulah julukan daerah istimewa Yogyakarta untuk kegiatan seni rupa yang dalam beberapa dekade belakangan frekwensinya terus menggeliat dan meningkat dalam menyelenggarakan pameran untuk publik tanah air hingga mancanegara.

Baca Juga: Pesona Lukisan Pemandangan Alam yang Memukau dan Menghipnotis Mata

Kali ini pameran bertajuk “Memoir” digelar FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) ISI Yogyakarta melalui Program Studi Tata Kelola bersama Pituwara. S menampilkan enam perupa; Bambang Herras, Dipo Andy, Endang Lestari, Galam Zulkifli, Putu Sutawijaya, Setia Utami sejak 7 hingga 10 Mei 2025 mendatang di Sarang Art Building Block I Yogyakarta, Jalan Ambarbinanguni I Kalipakis Tirtonirmolo Kasihan Bantul, Yogyakarta, pukul 11.00 hingga 20.00 Wib.

Karya Bambang Herras , Serangan Fajar (2024)
Karya Bambang Herras, Serangan Fajar (2024)

Menurut kurator Meylani Siti Malicka Putri didampingi salah seorang dosen ISI Yogyakarta Dr. Mikke Susanto, MA, Selasa (6/5/25) kepada semangatnews.com menyebutkan; pameran ini terbuka untuk umum menampilkan karya enam perupa Indonesia menghadirkan interpretasi personal terhadap makna waktu, kenangan, dan jejak rasa yang rencananya akan diresmikan Dr. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum, Rabu (07.05.25) pukul 14.00 Wib.

Karya Dipo Andy, CARGO CULT M.U.K.A, 2012
Karya Dipo Andy, CARGO CULT M.U.K.A, 2012

Disebutkan, melalui karya-karya visual berisikan lukisan, instalasi scrapbook dan medium campuran tanah liat, peserta pameran mengajak pengunjung untuk menyususuri ingatan dan menghadapi kenangan yang dirindukan.
Apalagi, di tengah dunia yang terus berlari, waktu kerap terbuang tanpa kita sadari, kita hidup di tengan ritme yang cepat, dipeluk rutinitas yang padat, namun tak betul-betul kita genggam.

Dalam hiruk-pikuk saatn ini memaksa kita untuk terus bergerak, dan kita mulai kehilangan kesadaran, bahwa waktu berjalan tanpa henti, meninggalkan jejak yang tak bisa kita ulangi. Padahal dialah, harta sunyi yang tak bisa kita beli,” ujar Meylani Siti Malicka Putri memberi penjelasan. (mh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.