Pemprov Sumbar Sambut Komite III DPD RI Jalin Komitmen Kepariwisataan

oleh -

SEMANGATNEWS.COM – Perkembangan kepariwisataan dunia dari tahun 2020 sampai sekarang menunjukkan penurunan. Karena perubahan struktur sosial ekonomi negara di dunia adanya pandemi Covid-19.

Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Mahyeldi Ansharullah dalam sambutannya pada acara Focus Group Discussion Pengawasan Atas Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan di Hotel Mercure Padang, Senin (22/3/2021) mengungkapkan, dampak nyata pandemi Covid-19 pada sektor pariwisata sangat nyata dg menurunnya perekonomian Sumbar.

Baca Juga:  Hari Kedua Di Sumbar Menteri PPN/Bappenas RI, Tinjau Kondisi Pembangunan Limapuluh Kota.

“Karena memang sektor pariwisata salah satu penyumbang terbesar perekonomian di Sumbar,” ucap Mahyeldi.

Semasa pimpinan Mahyeldi sebagai Walikota Padang tahun 2019 pada sektor Pariwisata Padang kunjungan wisata meningkat lebih 600 persen.

Menurutnya Pariwisata merupakan cara yang paling cepat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Ini terbukti pada daerah-daerah pariwisata mengalami perubahan yang signifikan sekali. Bahkan ada masyarakat memiliki pendapatan satu juta per hari.

Baca Juga:  Wabup Rizki Kurniawan Nakasri Buka Secara Resmi Musorkab KONI Kabupaten Lima Puluh Kota

Ini dibuktikan dengan adanya infrastruktur jalan yang mendukung, seperti jalan yang ada di Pantai Air Manis Padang dan daerah pariwisata lainnya, maka masyarakat bisa menikmati tanpa adanya gejolak.

Selanjutnya untuk daerah pariwisata yang bertaraf internasional, pemprov Sumbar mendorong Kabupaten Kota untuk menghadirkan objek-objek wisata yg diunggulkan sebagai peningkatan ekonomi dengan mengerakkan UMKM di daerahnya.

Baca Juga:  Bupati Suhatri Bur Terharu, TMMD ke-110/2021 Bebaskan Salibutan dari Isolasi

“Kami mengajak untuk Bupati dan Walikota untuk berkolaborasi dan bersinergi untuk meningkatkan pariwisata untuk kesejahteraan masyarakat,” pintanya.

Apalagi saat ini ancaman dampak Covid-19 pada pariwisata ini memprihatinkan. Hotel dan akomodasi ditutup sementara, mall retail menurun omsetnya, destinansi ditutup sementara, cafe dan tempat makan ditutup sementara, MICE ditunda. Apalagi ancaman PHK di industri pariwisata.