Oleh Suryadi
‘Ketek banamo, gadang bagala’
(kecil bernama, besar bergelar) ; suatu kata ungkapan di Minangkabau.
PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Ungkapan itu mengingatkan kita, bahwa setiap orang, dalam konteks ini laki-laki Minangkabau, punya gelar (gala). Gelar yang diletakkan di depan nama seorang laki-laki Minang pasti diturunkan dari ayahnya. Gelar yang ditaruh di belakang namanya diperoleh dari mamak sebagai sako dari kaumnya.
Tapi apakah sebenarnya hakikat gelar?
Mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa gelar merupakan salah satu refleksi kegilaan makhluk Tuhan yang disebut manusia?
Mereka menciptakannya untuk memperjelas perbedaan derajat dan status di antara mereka sendiri, padahal semuanya tercipta tidak lebih dari setitik air yang hina yang kemudian menggumpal menjadi darah, daging, dan beberapa kerat tulang, yang rata-rata setelah 70 tahun akan hancur menjadi tanah. Ambil contoh paling sederhana : gelar (gala) urang sumando di Pariaman. Gelar Bagindo dan Sidi, misalnya, agak tinggi nilainya. Bahkan Sidi gunanya untuk memecah-mecah piring dan timbala saja.
Gelar Sutan agak rendah sedikit di bawah Sidi dan Bagindo. Menantu bergelar Sutan boleh disuruh menutup pintu kandang ayam oleh ibu/bapak mertuanya. Begitu gurauan yang terdengar di kalangan orang Pariaman. Dengan demikian, gelar, apapun kategorinya, merefleksikan status sosial. Dan, status sosial adalah ciptaan manusia untuk menegaskan perbedaan diantara sesamanya.
Mungkin sudah menjadi sifat dasar manusia untuk selalu saling memperlihatkan kehebatan, yang antara lain disimbolkan melalui gelar. Dalam pergaulan hidup sehari-hari sering kita bertemu dengan orang yang namanya sarat dengan gelar. Di depan namanya berderet bermacam-macam gelar : Profesor, Doktor, dokter, Doktorandus, Haji, Satuk, Panglima,….
Seakan belum cukup, deretan gelar itu bertambah beberapa buah lagi di belakang namanya: M.A., M.H., M.Sc, M.Hum, M.Phil, dll. Gelar yang berderet-deret itu tentu membuat bangga si pemilik nama. Gelar akademik hanyalah salah satu saja dari jenis gelar yang diciptakan manusia.
Gelar-gelar adat – Datuak, Karaeng, Tengku, Andi, Raden, La Ode, Cokorda, untuk sekedar menyebut contoh – juga dimaksudkan untuk membedakan status sosial. Begitu juga dalam ranah agama : gelar Tuanku, Manti, Malin, Labai, Garin, dan lainnya, menunjukkan posisi penyandangnya yang lebih tinggi dari orang kebanyakan.
Orang yang memasang gelar (akademik, adat, agama) di depan dan di belakang namanya tentu baik dan sah-sah saja, sejauh dia berhak menyandang gelar-gelar tersebut, yang diperoleh dengan kerja keras dan melalui prosedur dan mekanisme yang benar.
Namun, di zaman kini tampaknya makin banyak orang yang gila gelar atau malah mabuk gelar, tidak hanya gelar akademik, tapi juga gelar adat. Kalau tidak bergelar rasanya diri kurang berbobot dan kurang berwibawa. Walau sudah punya satu gelar, ingin lagi gelar yang lain. Ada yang mendapat gelar Doktor (Dr) dengan bersekolah selama 1,5 tahun saja, atau malah lebih singkat lagi.
Ada pejabat yang secara tiba-tiba, entah kapan dia pergi sekolah, sudah berderet pula gelar M.Sc. dan MBA di belakang namanya. Ada pula pejabat dari pusat yang sudah menyandang gelar adat hadiah dari berbagai etnis.
Kegilaan manusia zaman kini terhadap gelar akademik disambut antusias oleh para makelar gelar. Pasar gelap gelar marak di mana-mana. Maka bermunculanlah universitas-universitas abal-abal, baik di dalam maupun luar negeri, yang siap mengobral gelar bagi yang membutuhkannya.
Akibat kegilaan pada gelar akademik ini, banyak yang memburunya secara ilegal sambil bertelanjang moral dan rasa malu, bahkan konon sampai ke Pasar Pramuka sana. Tersedia juga banyak tukang skripsi (bahkan mungkin juga tukang disertasi) yang buka praktek di sekitar kampus universitas-universitas ternama di dalam negeri.
Sejak heboh tak berkeruncingan tentang ijazah dan gelar akademik seorang mantan penguasa tertinggi di sebuah negeri, gelar-gelar akademik produksi perguruan-perguruan tinggi negeri itu terasa seperti karet kerendam minyak tanah.
Civitas akademika di lingkungan kampus ikut tercemar hawa busuk dari budaya mabuk gelar ini. Bahkan sudah sering diberitakan terjadinya plagiarisme oleh beberapa orang dosen bermental bejat. Bahkan ada pula staf pengajar universitas yang mencaplok penelitian mahasiswanya dengan mengklaimnya sebagai karya sendiri. Tujuannya: agar kum cepat terkumpul untuk meraih gelar Profesor. Akibatnya, muncul pandangan miring terhadap gelar-gelar akademik.
Gelarnya Profesor dan Doktor, tapi suka korupsi ; buat apa sekolah tinggi-tinggi, cukup tamat SMP, bisa jadi menteri. Demikian antara lain omongan publik yang kita dengar.
Bahkan ada penguasa negeri ini, yang kini sering lupa ‘menganga’ dulu sebelum bicara, yang mengatakan: “Tak perlu ijazah (sebagai syarat untuk mendapatkan gelar akademik), yang penting skill.” Karena gelar dapat membuat penyandangnya menjadi lebih arif dalam hidup ini. Tapi tak jarang gelar pula yang membuat orang jadi sombong, takabur, pongah, bahkan lupa diri. Bagi golongan pertama, gelar adalah anugerah dari Ilahi yang telah menyuntikkan sedikit cahayanya ke dalam tempurung kepala manusia yang gelap gulita.
Bagi golongan kedua, gelar adalah spirit setan yang menjalar ke seluruh urat darahnya. Orang-orang seperti itu cenderung makin sombong setelah menyandang gelar tertentu. Meski sering juga isi kepalanya tidak bertambah oleh gelar itu, hanya sifat tinggi hatinya saja yang bertokok. Gelar yang dia peroleh tidak menjadikannya lebih bijaksana, tapi malah membuat dirinya tinggi hati, merasa tahu semuanya, dan menganggap orang lain bodoh.
Mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sesungguhnya gelar – gelar adat, agama, akademik – adalah refleksi dari hawa duniawi manusia. Namun, melalui gelar itu pula, insan yang hatinya diterangi oleh cahaya Tuhan, menyadari betapa kecil dan tak berartinya manusia dalam alam ciptaanNya yang maha luas dan penuh rahasia ini.
Mereka yang memiliki gelar akademik dengan kesadaran yang demikian, pasti akan mengamalkan ilmu padi dalam hidupnya : makin berisi makin runduk ; makin banyak belajar, makin luas ilmu, dan makin tinggi gelar akademik yang dicapai, rasanya makin banyak yang belum diketahui. Semoga penulis dan para pembaca termasuk manusia golongan ini. (***)
Catatan Redaksi
Suryadi Staf Pengajar di Universitas Leiden, Belanda

