YOGYAKARTA, SEMANGATNEWS.COM – Sedikitnya 15 perupa mahasiswa dan dosen ISI Yogyakarta mengikuti pameran seni visual Jazz Gunung Series 1 dan 2 Bromo yang dijadwalkan berlangsung sejak 19 Juli sd 19 Agustus 2025 mendatang di Jiwa Jaya Gallery dan Resort Bromo, Jalan Raya Bromo, Sukapura, Jawa Timur.
Baca Juga : Jangan Mencoba Tahu Jika Mengamati dan Berhadapan dengan Karya Patung Abstrak
Pameran seni visual Jazz Gunung series 1 dan 2 ini, selain menyajikan kegiatan pagelaran musik juga ditandai pameran yang menampilkan lukisan, patung, grafis, poster (film, animasi dan kegiatan pertunjukkan, desain grafis, desain interior, fotografi, hingga seni instalasi dimana karya-karya yang tampil tidak hanya berfungsi menjadi pelengkap ruang, tetapi juga memperkaya pengalaman estetika para pengunjung.

Menurut kurator pameran, Dr. Mikke Susanto, MA, kepada semangatnews.com, Rabu, (16/07/25) menyebutkan, setidaknya 90-an karya para partisipan (dosen dan mahasiswa) tampil dalam pameran ini. Pesertanya berasal dari tiga fakultas ISI Yogyakarta. Diantara peserta terdapat perupa Lutse Lambert, Dwita Anja Asmara, Otok H., M. Sholahuddin, Dony Arsetyasnmoro, I Gede Arya Sucitra, Yoga Budi Wantoro dan lainnya hingga karya berupa buku prodi Tata Kelola Seni yang semuanya berasal dari Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institur Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Nama lain dari peserta pameran ada Edial Rusli, Pamungkas, Ika Yulianti, Irwandi, M. Fajar Apriyanto, dan sejumlah dosen lainnya bersama mahasiswa yang memproduksi karya fotografi, poster produk televisi, animasi, videografi beserta lainnya karya dosen dan mahasiswa Fakultas Seni Media Rekam (FSMR) ISI Yogyakarta.

Sekitar 20-an poster acara seni pertunjukan adalah bagian dari dokumen atau arsip publikasi dan promosi kerja dosen dan mahasiswa dari Fakultas Seni Pertunjukan (FSP). Mereka membawa kita pada sejumlah hal penting untuk dicermati lebih jauh dan lebih dalam.
Dalam perhelatan musik jazz di Gunung Bromo 2025, hadirnya seni visual–mulai dari lukisan, grafis, patung, poster (film, animasi dan acara pertunjukan), desain grafis, desain interior, fotografi, hingga seni instalasi– tidak hanya menjadi pelengkap ruang, tetapi juga memperkaya pengalaman estetika pengunjung dan membuka berbagai cakrawala menarik.
Seni visual dalam konteks ini berfungsi sebagai hiburan alternatif yang memperluas horizon keindahan, menyandingkan irama visual dengan harmoni musikal dan dinginnya alam di pengunungan. Penikmat jazz tidak hanya dimanjakan telinga mereka, tetapi juga diajak merasakan resonansi visual yang menyatu dengan suasana magis pegunungan Bromo yang pembukaan kegiatannya dilakukan Sabtu siang, 19/07/25,” tutur Mikke Susanto
Pada tingkat lebih lanjut seni (musik dan visual) juga dianggap sebagai bentuk respons ekologi dan kesadaran lingkungan. Gunung adalah simbol ekologis penting. Banyak seniman visual kini mengolah isu lingkungan dan keberlanjutan, dengan pendekatan sensitif terhadap lanskap. Jazz sebagai musik yang lahir dari perlawanan dan kebebasan, bertemu dengan seni visual dalam aktivisme halus: mengingatkan kita akan keindahan yang mesti dilestarikan.
Pameran ini juga menjadi bagian dari bentuk inter-disipliner, penggabungan media dan indra. Dalam perkembangan mutakhir, seni visual sering tidak lagi berdiri sendiri. Ada berbagai bentuk seni visual yang dilakukan berbarengan dengan penampilan musik jazz. Perpaduan antara visual dan suara menciptakan pengalaman sinestetik yang menguatkan imersi pengunjung dalam lanskap gunung. Beruntunglah Anda bisa memaksimalkan panca indera dalam pameran ini.
Setidaknya pameran semacam ini dapat menjadi ruang alternatif dan demokratisasi seni. Bromo–atau gunung lainnya–sebagai ruang alternatif jelas telah menawarkan bentuk perlawanan terhadap eksklusivitas galeri atau museum. Agenda ini membuka kemungkinan baru di mana seni dan jazz menjadi pengalaman kolektif yang cair, bebas, dan terbuka untuk berbagai kalangan. Inilah esensi perlunya seniman musik dan rupa bertemu.
Ditempat terpisah Rektor ISI Yogyakarta, Dr. Irwandi, M.Sn, menyebutkan, pameran ini dikerjakan sebagai wujud nyata kolaborasi antar lembaga seni yang saling memperkuat ekosistem kreatif, yakni antara penyelenggara Jazz Gunung Indonesia dan ISI Yogyakarta yang diharapkan dapat membuka peluang lintas disiplin yang tidak hanya merayakan jazz sebagai ekspresi musikal, tetapi juga sebagai momentum bertemunya berbagai medium seni visual dan seni musik dalam satu ruang dialektika.
Sementara founder Jazz Gunung Bromo Sigit Pramono menyebutkan, dalam perkembangan seni visual hari ini, hubungan jazz gunung dan seni visual telah membuka kemungkinan luas yakni seni yang lebih cair, terapi seni, multisensorial, improvisasional, dan menyatukan manusia dengan alam semesta. Untuk itulah pameran seni visual dalam sebuah pergelaran jazz ini penting untuk dilakukan. (mh)
