Siswa Sekolah Rakyat Masuk Museum BI: Dari Sejarah Uang hingga Manajemen Keuangan

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Ratusan siswa dari program Sekolah Rakyat menjejakkan kaki ke Museum Bank Indonesia di kawasan Kota Tua Jakarta pada hari Selasa, menandai momen penting dalam literasi keuangan dan sejarah uang nasional. Mengusung tema “Sekolah Rakyat Belajar Bersama BI: Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah”, kegiatan ini mempertemukan generasi muda dari keluarga sederhana dengan warisan moneter Indonesia.

Acara dibuka bersama oleh Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sebagai Menteri Sosial yang menyampaikan harapan agar para siswa tak hanya memahami nilai uang, tetapi juga mampu mengelola keuangan secara bijaksana di masa mendatang. Ia menegaskan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat literasi keuangan anak‑anak yang mungkin belum pernah memperoleh akses ke museum atau institusi keuangan sebelumnya.

Dalam tur edukatif tersebut, siswa didampingi oleh pemandu museum dan sere­moni khusus digelar sebagai wujud penghormatan terhadap tema besar acara. Para peserta memperoleh pengenalan terhadap sejarah rupiah, dari masa kolonial hingga era modern, koleksi uang kuno, hingga unsur keamanan cetak uang. Tur tersebut ditutup dengan upacara sederhana dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, memberikan makna ganda: sejarah bangsa dan literasi keuangan.

Salah satu siswa dari SRMA 10 Jakarta Selatan, Naira Intan Safitri, menyampaikan terima kasih karena lewat kunjungan ini ia lebih memahami betapa pentingnya rupiah sebagai simbol bangsa. Sementara siswa lainnya dari SRMA 9 Jakarta Timur, Linggar Ardiansyah, menyampaikan aspirasi agar pertumbuhan ekonomi Indonesia terus ditopang oleh generasi yang cerdas finansial. Kedua pernyataan ini menunjukkan bahwa kegiatan bukan hanya seremonial, tetapi menyentuh pikiran dan hati peserta.

Di sisi teknis, Museum BI menyediakan wahana pamer interaktif dan audiovisual yang menghidupkan perjalanan sistem keuangan Indonesia. Ruang­ruang seperti galeri numismatik, video dokumenter sejarah uang, serta permainan edukatif mengenai pengelolaan uang membuat kunjungan terasa lebih hidup dan mudah dipahami oleh anak‑anak muda. Beberapa siswa tampak antusias mencatat detail uang kuno, keamanan cetak, dan proses cetak rupiah yang sebelumnya tak pernah mereka bayangkan.

Menurut pihak museum dan Kementerian Sosial, salah satu tujuan utama kunjungan ini adalah menanamkan nilai “Cinta, Bangga, Paham Rupiah” di kalangan generasi muda dari latar belakang ekonomi menengah ke bawah (desil 1–2). Dengan pengenalan sejak dini terhadap fungsi uang—sebagai alat tukar, penyimpan nilai dan instrumen ekonomi—diharapkan generasi ini bisa tumbuh menjadi warga negara yang sadar finansial dan aktif dalam perekonomian nasional.

Namun demikian, kegiatan ini juga menyadarkan pihak penyelenggara bahwa tantangan nyata masih ada: banyak siswa yang selama ini belum memiliki akses ke museum ataupun kegiatan edukasi keuangan. Keterbatasan fasilitas sekolah, biaya transportasi, dan kurangnya kesempatan belajar di luar kelas menjadi hambatan yang harus terus diatasi agar program serupa bisa menjangkau lebih banyak anak di berbagai daerah.

Pihak Bank Indonesia dan Kementerian Sosial menyatakan bahwa program ini akan dievaluasi secara berkala agar dampaknya dapat diukur. Evaluasi mencakup pemahaman siswa terhadap literasi keuangan, perubahan sikap dalam mengelola uang, serta kapasitas mereka untuk menyampaikan kembali pelajaran yang diperoleh kepada keluarga mereka. Rencana jangka panjang berupa perpanjangan program ke kota‑kota lain juga tengah dibahas.

Secara sosial, kunjungan ini menjadi jembatan antara institusi keuangan nasional dan masyarakat yang selama ini kurang terjangkau. Dengan menghadirkan anak‑anak dari keluarga sederhana ke pusat sejarah moneter Indonesia, program ini juga menghadirkan makna inklusivitas: bahwa sejarah dan pengelolaan uang bukan hanya milik kalangan tertentu, tetapi milik seluruh rakyat.

Dengan demikian, kunjungan siswa Sekolah Rakyat ke Museum BI bukan sekadar wisata edukatif, melainkan upaya strategis untuk membangun generasi yang melek keuangan, menghargai rupiah, serta memiliki tanggung jawab sebagai bagian dari ekonomi bangsa. Jika dibarengi dengan dukungan berkelanjutan, program semacam ini bisa memainkan peran penting dalam mengubah budaya finansial di masa depan.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.