PARIAMAN, SEMANGATNEWS.COM – Usai pameran 95 tahun Arby Samah (19 sd 23 Juni 2025), Ali Umar seniman patung asal Sunua Pariaman dan salah seorang peserta pameran yang kini bermukim dan berkarya di Yogyakarta, mengapungkan wacana untuk mewujudkan museum seni rupa dengan mengadopsi nama pelukis maestro Nashar dan Zaini. Keduanya tokoh penting dalam peta seni rupa Indonesia.
Baca Juga : Warna Menarik Pameran Patung Internastional 95 Tahun Arby Samah
Pentingnya kehadiran museum seni rupa di Pariaman mengingat jasa kedua tokoh dalam peta seni rupa ini dinilai sangat layak dan pantas. Selain di dunia seni rupa kedua tokoh lahir sebelum era kemerdekaan RI tahun 1945,” ujar Ali Umar saat rapat dengan Kepala Dinas Kebudayaan, Sumatera Barat Dr. H. Jefrinal Arifin, SH, M. Si beserta jajarannya, Selasa, (24/6/25), di Padang

Rapat yang dihadiri jajaran Dinas Kebudayaan Sumbar, Plt. Kepala UPTD Taman Budaya Sumbar, Pamong Budaya Ahli Madya Bidang Permuseuman, Pamong Budaya Ahli Madya Bidang Kesenian, Seniman, Budayawan, Praktisi, Akademisi tersebut menyepakati perlunya didirikan museum seni rupa di Pariaman.
Apalagi Pariaman selain dikenal dengan sebutan kota tabuik juga dikenal dengan banyaknya para perupa berasal dari daerah ini mulai dari generasi Nashar, Zaini hingga ke tokoh tokoh muda saat ini,” ujar Ali Umar salah seorang inisiator perlunya museum memberi ilustrasi.

Perihal pentingnya museum seni rupa di Kota Pariaman, Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, Jefrinal Arifin di sela sela rapat langsung menghungi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kota Pariaman.
Kato bajawek, gayuang basambuik ; Dinas Pariwisata dan kebudayaan kota pariaman menyatakan menerima usulan perlunya mendirikan museum seni rupa di kota Pariaman. Rencana Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pariaman akan memanfaatkan gedung/bangunan rumah tabuik Subarang milik pemerintah yang berlokasi bersebelahan dengan kantor wali kota Pariaman, ujar Jefrinal Arifin.
Sementara Ali Umar menyebut, jenis museum menurut pengelolanya adalah museum pemerintah, karena bangunan merupakan aset Pemerintah Kota Pariaman. Jenis benda koleksi yang dipamerkan di museum ini rencana didominasi oleh lukisan para pelukis legend yang merupakan orang rantau (orang Minangkabau) seperti lukisan Nasar, Zaini dan lainnya yang nantinya akan dibicarakan dengan Kurator seni rupa.
Yulhendri salah seorang seniman nasional yang turut menghadiri pertemuan dengan Kadis Kebudayaan Sumbar menyebut, adanya wacana untuk mendirikan museum seni rupa di kota Pariaman merupakan hal menarik dalam ranah kebudayaan. Karena museum bisa dijadikan icon kota Pariaman, sekaligus obyek wisata berbasis budaya lokal dengan menyaksikan karya karya seni rupa nasional dan lokal, membuat kota Pariaman makin populer, tidak saja secara nasional bahkan internasional.
Rencana mulia seperti ini, layak kita dukung bersama demi pembangunan kebudayaan dalam bidang seni rupa yang selama ini sering termajinalkan,” ujar Yulhendri menambahkan.
Penamaan Museum di Pariaman
Ditempat terpisah pengamat dan juga kurator seni rupa Muharyadi yang juga putra asli Anduring, Kayu Tanam, saat dimanta pendapatnya perihal pentingnya museum seni rupa di Pariaman, menyebut, belajar dari sejarah yang ada, Pariaman dan sekitarnya sejak era pra Kemerdekaan hungga kini memiliki banyak tokoh penting seni rupa di tanah air.
Terdapat sejumlah nama dan tokoh tokoh penting di Indonesia, diantara Zaini, Nashar, Muslim Saleh. Dari angkatan muda terdapat nama Ali Umar, Syahrizal Koto, Kamal Guci, Bodi Dharma dan sejumlah nama lainnnya.
Dan, museum tentu tidak menutup pintu untuk menempatkan karya karya seniman lain yang bukan berasal dari Pariaman. Persolan sekarang jika telah terbentuk panitia museum tentu langkah awal selain urusan teknis museum yang tidak kalah pentingnya menginventarisir karya karya yang nanti akan dipajang di museum.
Karena mencari atau mengoleksi karya maestro seperti Zaini dan Nashar, bukan urusan gampang dan sederhana. Kalau pun ada sebagian mungkin berada di tangan kolektor yang harus dinegosaiasikan atau dibeli kembali oleh Pemerintah.
Soal penamaan museum seperti yang diusulkan Ali Umar dan kawan kawan dengan memakai nama museum Zaini dan Nashar, sah sah saja. Cuma persoalannya sebaiknya di dudukan secara musyawawah dan mufakat oleh semua pihak dan stack holder yang berkepentingan hingga terasa legalitasnya,” ujar Muharyadi.
Disebutkan Zaini Zaini asal Pariaman (17 Maret 1926 – 25 September 1977) merupakan tokoh pelukis Indonesia yang banyak belajar melukis pada pelukis-pelukis senior seperti Basuki Abdullah, S. Soedjojono dan Affandi pada masa pendudukan Jepang.
Zaini juga pernah bersekolah di INS Kayutanam, dan mendapatkan pelajaran dasar melukis dari Wakidi. Zaini yang beraliran Ekspresionisme abstrak ini telah melakukan pameran lukisan di banyak tempat, baik di dalam negeri maupun mancanegara.
Sementara pelukis Nashar kelahiran Pariaman, 3 Oktober 1928 dan meninggal dunia 13 April 1994) adalah salah seorang pelukis Indonesia yang dikenal dengan konsep tiga non nya. Ia belajar melukis di Kota Yogyakarta terutama kepada Affandi.
Nashar pun dijuluki Bapak Seni Lukis Modern Indonesia. Ia mengikuti kecendrungan ekspresionisme karena pengaruh Affandi yang mengajarinya melukis dengan mengambil objek kehidupan sehari-hari, yang terus dipertahankan sepanjang hidupnya,” ujar Muharyadi (*)
