(Pertunjukan Tari Kontemporer “Meniti Jejak Tubuh” koreografer Sherli Novalinda)
Oleh : Ikhsan Satria Irianto
Bias cahaya menyinari wajah panggung dari sisi sayap kiri. Seorang pria dengan topi, tas dan jaket tebal berjalan memasuki panggung. Pria tersebut berputar mengelilingi panggung seraya menggambarkan seseorang dalam perjalanan yang panjang. Kemudian ia berhenti dan melepas jaket, baju, tas, dan topinya. Kemudian cahaya menerangi tengah panggung, sebuah lingkaran dengan tiga gradasi warna, yaitu merah, kuning, hitam, putih yang dapat memberikan banyak metafora, sebuah metafora energi, bentuk identitas marawa, maupun struktur tatanan adat dlm suatu budaya yang diwakili dengan warna tersebut.
Properti nya bersifat multi interpretative (multi tafsir). Awal idenya dari penggabungan 2 warna budaya Minang (merah kuning hitam) Kerinci (merah hitam putih). Lingkaran menyimbolkan energi yang tidak terputus. memberikan kesan yang dinamis, bergerak, memiliki kecepatan, sesuatu yang berulang, tidak memiliki awal atau akhir. Menyimbolkan kekuatan dan perjalanan yang terus berulang, berpindah dari satu ke yang lainnya (in between) Merupakan metafora dari perjalanan sejarah tubuh itu sendiri dimana dulu dan kini saling terkait dan saling mempengaruhi. Berputar pada 2 budaya yang berbeda, berputar pada 2 tanah yang berbeda, berputar pada 2 tubuh yang berbeda dan pastinya 2 jiwa yang berbeda.
Sosok penari terlihat berdiri di antara warna putih yang memenuhi keseluruhan lingkaran warna tersebut. Pria tersebut memasuki lingkaran dan kisah Meniti Jejak Tubuh koreografer Sherli Novalinda pun dimulai.
Setelah dipentaskan diberbagai kota di Indonesia, garapan tari kontemporer bertajuk Meniti Jejak Tubuh koreografer Sherli Novalinda kembali dipentaskan dalam rangka memeriahkan Dies Natalis Institut Seni Indonesia Padangpanjang ke 52. Pertunjukan yang dihelat pada kamis malam (30/11/2017), terhitung telah dipentaskan sebanyak 9 kali di berbagai event berskala Nasional oleh Sherli Novalinda Dance Laboratory. Meniti Jejak Tubuh adalah karya awal dalam proyek jangka panjang Sherli bersama Sherli Novalinda Dance Laboratory dalam proyek trilogi tari yang berjudul “Malay Body”. Proyek yang berjalan kurang lebih 2 tahun ini mencoba melakukan dekontruksi atas gagasan tentang titik pemahaman nilai-nilai luhur dalam diri dapat diekplorasi melalui seni tari. Bahwa seni tari sebagai media kontemplasi dalam menelusuri memori tubuh. Meniti Jejak Tubuh merupakan capaian dari riset autoetnografi Sherli terhadap rekaman perjalanan tubuh Sherli sendiri. Pertunjukan yang berdurasi kurang lebih 22 menit ini, mengambarkan bagaimana capaian dari tubuh atas proses silang budaya antara Kerinci dan Minang Kabau.
Dosen termuda di Program Studi Seni Tari ISI Padangpanjang yang akrab disapa Kak Sherli ini, mencoba metransformasikan sejarah ke dalam tubuh penarinya yang bernarasi. Pengalaman tubuh dan memori kultural Sherli yang mewarisi budaya Kerinci dan melakukan proses kreatif di tengah-tengah budaya Minang Kabau menjadi dasar penggarapan tari kontemporernya. Koreografer produktif yang karyanya telah malang melintang sejak 2003 ini menekankan karya Meniti Jejak Tubuh pada memori tubuh yang menjadi narasi. Karena menurutnya setiap perjalanan terekam dalam tubuh dan yang harus dilakukan adalah melakukan pembacaan ulang terhadap memori tubuh.
